Thursday, 2 August 2018

La mer

Berawal dari pikiran liar yang muncul akibat beberapa butir pasir pantai yang tertinggal di pakaian, saya mencoba meruntut kunjungan saya ke pantai yang kebetulan berturut-turut dan sangat tidak biasa untuk saya. Ya, karena saya yang jarang pergi ke pantai, bisa tiba-tiba melakukan perjalanan ke tempat yang sama berturut-turut. Dimulai pada akhir tahun lalu kemudian tahun ini. Ini seperti  ada sesuatu yang menyatukan atau memang satu dengan yang lain saling bertautan, karena memang tidak ada yang kebetulan di dunia ini? Ah,terkadang heran dengan pikiran sendiri.
Oktober 2017, saya berkesempatan ikut acara camping di pantai. Pantai yang saya kunjungi saat itu adalah pantai Sanglen. Saya, bersama teman-teman baru saya, karena hanya ada satu orang yang sudah saya kenal sebelumnya, berkemah di pinggir pantai ini dan mengadakan acara bersih pantai. Pantai Sanglen termasuk pantai baru. Tahu ga, bagaimana cara tahu jika pantai ini masih baru? Menurut saya hal-hal tersebut bisa dilihat di lingkungan pantai itu sendiri, terutama fasilitas. Tak satupun warga yang yang menyewakan payung, hanya ada dua atau tiga warung di pinggir pantai, hanya ada beberapa kendaraan roda 4 yang ada di tempat parkir, ditambah akses jalan ke pantai yang masih bebatuan. Untuk fasilitas kamar mandi dan toilet sudah dibangun, meskipun jumlahnya belum banyak, tetapi sudah mencukupi untuk saat itu, mengingat pengunjung belum begitu sesak. Saya sempat terpisah dari rombongan ketika pulang, karena salah jalan, yang harusnya ke arah Sukoharjo, ini malah sampai di pusatnya kota Gunung Kidul, sesaat saya sempat berpikir, rame juga ternyata kota Gunung Kidul. (Ok, bukan ini inti ceritanya woi).
Nah ini, suatu hari, sesampai di rumah, saya sempat berpikir dan bertanya apakah saya akan kembali lagi mengunjungi pantai-pantai di Gunung Kidul? Melihat ada beberapa butir pantai pasir yang terbawa di celana saya. Hahaha...
Januari, 2018, . Awal tahun ini, saya kembali mengunjungi pantai Sadranan, setelah mengunjungi kota Yogyakarta, kemudian berbelok ke pantai, dengan rombongan yang berbeda Saya masih berpikir sesuatu yang sama  ketika mencuci celana saya, ada butiran pasir putih tertinggal. So, will I be back to visit those Gunung  Kidul's beaches?
Mei 2018, saya kembali lagi ke pantai Sadranan, bersama rombongan berbeda lagi dengan yang sebelumnya. Kemudian ke pantai Kukup sebagai pantai kedua yang jaraknya tidak begitu jauh dengan Sadranan.
Juni 2018, seminggu setelah Lebaran tahun ini, saya kembali, iya, dengan rombongan berbeda lagi,  ke pantai Gunung Kidul. Pok Tunggal, dan Drini. Berkata dalam hati saya, ini kenapa saya jadi sering ke pantai tahun ini? Sayapun mulai berpikir bahwa pantai bisa begitu menyenangkan ketika saya membandingkan dengan gunung. Iya, dulu saya berpikir pergi ke gunung akan lebih keren dan menyenangkan daripada pantai. Hari ini saya masih menemukan butiran pasir putih tertinggal di kantong-kantong celana saya.



Hmm, setelah beberapa kali membaca, cerita ini intinya apa coba? hahaha...

Friday, 5 January 2018

The Old Man and The Sea, my first reading review

I have finished reading my novel. I bought it last month. I have got 20 % discount. I thought I wouldn’t get the discount. I went to the famous bookstore in town, but I was disappointed because the discount was not like I imagined before.My first book titled The Old Man and The Sea by Ernest Hemingway. Ernest is one of the most famous authors in the world. That made me want to read his book.
The story began there’s an old man who lives nearby the sea. This old man was a fisherman. He seldom went sailing with his young companion. One busy day, he went sailing, but this time he went alone. When he was in the middle of the sea, his successfully caught a fish. It was a big fish as he took more than two days to tame. The story tells about his struggle with keeping his catch, how he survives in the sea just accompanied by the catching fish. His struggle to defend himself against some wild shark eating his part of fish, and his struggle inside himself.
The cover said, that it is the best seller book. During my reading, I was wondering why this book is considered such a masterpiece? I thought the story is just an ordinary story nothing odd. One makes me amazed is the author can make a lot of writing, stories only simply from a simple thing occurred. One life day moment but the story still goes round and round.



avril 2017

Wednesday, 11 May 2016

Lesson Learning from Driving Course

Hari ini hari terakhir saya menyelesaikan kursus setir mobil. Sudah genap 12 kali mencoba mengambil kelas privat. Hasilnya sudah lancar atau belum, sayapun tak dapat menjawabnya dengan pasti. Sekian kali ditanya sama mba-mba di tempat kursus “sudah lancar belum bu?” sayapun hanya bisa menjawab belum dan belum, karena memang saya merasa masih banyak belajar. Ketika mba nya”kurang apa bu?” “kurang banyak mba.” Jawab saya. –iya some time they call me “bu” some time “mba”-. Si mba hanya senyum mendengar jawaban itu.  Semenjak ikut kursus saya menjadi lebih perhatian dengan orang-orang yang menyetir ketika di jalan. Melihat bagaimana mereka bisa dengan santainya mengemudikan mobil, kelihatannya, bagaimana mereka berhenti di lampu merah, bagaimana mereka mulai berjalan, bagaimana mereka belok, bagaimana mereka mulai berhenti. Sayapun jadi paham mengapa jikalau di lampu merah, mereka yang membawa mobil akan berjalan sangat pelan ketika lampu mulai hijau. 
Saya merasakan sendiri, bagaimana memulai mobil  berjalan setelah berhenti, dan itu butuh waktu. Apalagi saya yang sangat pemula ini, la wong yang sudah sering melihat mereka yang pengemudi mobil mahir di jalan-jalan ini memulai menjalankan mobil dengan pelan. Pertanyaan ketika saya yang sering naik motor dan biasanya jika berada di belakang sebuah mobil, dan mobil di depan saya ko tidak cepat-cepat menjalankan kendaraannya pun terjawab. It needs process! Saya menjadi belajar memahami menjadi pengemudi mobil. Seperti merasakan ketika saya sendiri di posisi mereka. Mungkin, ini juga yang terjadi dan diperlukan juga dalam hidup, menjadi belajar memahami dan mengerti orang lain. Yah karena tidak tahu apa yang sudah mereka alami dalam hidup begitu. Belajar menyetir seperti mengingatkan seberapa penting memahami orang lain. -jadi dalem gini?-
Saya, yang sering mengendarai motor dan memilih motor untuk berpergian, menjadi lebih paham. Mendapat kesempatan berada di posisi seorang sopir, tentu beda. Pernah suatu kali, saya bersama keluarga bepergian dengan mobil. Ada bus besar, yang seenaknya saja dari arah berlawanan mendahului sebuah kendaraan di depan mereka padahal ada mobil kami di jalur kiri, atau bus besar yang mendahului seperti tanpa perhitungan. Seperti tidak mempedulikan kami. Yang di dalam mobil mulai kesal, tentu, gara-gara sopir bus yang dianggap ngawur. Tapi bulik saya menimpali, yang intinya kita yang ada di dalam mobil mini bus ini tentu kesal dengan apa yang dilakukan dengan sopir bus besar tadi, tapi jika kita di posisi sopir bus, mereka juga sering kesal dengan mobil mini bus seperti yang kami tumpangi waktu itu. Bulik saya bercerita ketika menjadi penumpang bus, pernah dia mendengar orang di dalam bus besar mengeluh kenapa bus mini jalannya lambat, seperti malah menghalangi jalan mereka. J yah padahal tentu pengemudi mini bus dan bus besar punya kepentingan masing-masing. Si pengemudi bus mini mengeluh kenapa bus besar seperti ugal-ugalan salip sana salip sini, yang pengemudi bus besar mengeluh bus mini maunya apa ko jalannya lelet. Seperti sedang diingatkan lagi tentang memahami orang lain.

Need more exercise and practice then, driving a car by myself and learning how to understand others.

Tuesday, 5 April 2016

My old story

I was watching my Pinterest account when suddenly came up this idea. I was looking for something inspiring to make a nice tote bag. Watching all the pin inside made me remembering my old time. When I was just in junior school. I was in class group task in sewing class. I remember my group was asked to make a cloth, or sort of sewing and stitches things. I took my mothers sewing equipment and brought it to my class. One of them was the chalk. I don’t know what they call it. At that time I broke it in to small pieces so that my other friends could use it. Well, indeed, it broke in to a lot of pieces actually. When I got home, I showed it to my mom. Guess what, of course my mom was angry at that time. I never thought before that it will make her really up set. She said the chalk was new and in a good shape, and she said I had been using it wrongly. She said I did not need to break in to pieces, I should use it without make it broken.
And that makes me feel guilty.
And then, I remember when I was in senior school, I asked my mom to help me making a school bag. She made the pattern and teached me how to sew correctly. I made it, and I used it to pack my book and to go to school. I was very proud of my self having my own school bag which I made it by my self. I felt so up to date at that time because the bag model is just booming.


Wednesday, 30 September 2015

DELF B2

My late post, editing my draft post, and here it is...
Fiuhh, akhirnya kemarin ikut DELF B2 juga, sebuah rencana di awal tahun, dan di tahun-tahun sebelumnya.
Ujian sesi pertama dimulai pukul 9 pagi. Masuk ke ruang ujian ACnya dingin banget, untung pake jaket. Setelah petugas memeriksa surat undangan dan kartu identitas, kertas ujian dibagikan. Sesi pertama adalah comprehension orale. Di sesi ini kita disuruh mendengarkan orang perancis ngomong, kemudian  disuruh menjawab pertanyaan sesuai apa yang sudah kita dengarkan tadi, dan sebelumnya kita cuma dikasih persiapan untuk membaca pertanyaan yang jumlahnya lebih dari 5 itu hanya 1 menit kalau ga salah, habisnya cepett bagettt. Ada pilihan jawaban ada juga yang esai. Tahap ini saya kewalahan, udah ngomongnya cepet baget, dan banyak kosakata dan artikulasi yang saya tak tahu. Mencoba untuk mendengarkan sekali lagi karena untuk sesi ini, kaset akan diputar dua kali. Akan tetapi sepertinya hasilnya tidak ada kemajuan yang signifikan. Alhasil banyak yang saya kosongkan :(. Untuk percakapn berikutnya, kaset diputar satu kali dan pertanyaan jenisnya sama, pilihan dan esai. untuk tahap ini saya lebih menaruh harapan, heheh. Setelah waktu habis sesi ini, kertas ujian disuruh ditaruh di bawah di atas lantai dan kita dilarang untuk mencoba membukanya kembali.
Sesi kedua, adalah sesi comprehension ecrit. Di sesi ini, ada dua artikel panjang, dan tugas kita menjawab pertanyaan sesuai dengan teks dan waktu hanya 1 menit (lagi-lagi klo tidak salah -_-). Di sesi ini, ada jenis pertanyaannya ada yang kek gini, vrai ou faux, jadi kita disuruh menjawab benar atau salah dan disuruh memberikan bukti dalam teks yang mendukung jawaban kita. Jika salah satunya salah kita tak dapat poin.
Sesi berikutnya adalah Production Écrit. Di tahap ini kemarin saya diminta untuk membuat teks argumentatif. Kasusnya, ada penempatan un conteneur a verre usage di kota. Intinya kita diminta untuk membuat surat ke walikota untuk mempertimbangkan penempatan conteneur, mengemukakan alasan dan solusinya bagaimana. Setelah sesi écrit ini selesai, saya baru ingat, tulisan tanggal dan hari di surat pakai bahasa indonesia, ahh, comment ça?
Setelah tiga sesi tadi, masih ada sesi terakhir yakni Productioan Orale. Saya dapat jatah pukul 3.10 sore. Masih ada waktu untuk muter-muter dulu ga jelas dan cari makan. Just for info makan di kota ini lumayan mahal juga. Biasanya sekali makan cuma habis kurang dari 10 ribu, di Salatiga, udah bisa pakai ikan. Ini kemarin lauk telur dan krupuk+teh anget habis 10 ribu, hehheheh. jadi Salatiga emang paling murah jika dibandingkan dengan Semarang dan Yogya. Eitss malah ngomongin makanan, back to the topic...

Pukul 3.00 kurang saya menuju tempat ujian, menunggu giliran. Di sesi ini, dikasih waktu kurang lebih 20 menit untuk persiapan. Saya disuruh mengambil kertas dimana kertas tersebut terdapat nomor yang merujuk ke topik yang akan dibahas. Dua nomor yang diambil tapi hanya satu yang dipilih untuk dipresentasikan dan didiskusikan dengan juri. Giliran saya pun tiba. Ada dua juri kemarin dengan saya. Setelah mempresentasikan pendapat saya, tentang topik yang saya pilih, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, tapi kali ini sedikit saja waktunya saya rasa, tidak seperti tes Orale B1. Di B1 dulu, selain harus membahas topik yang diberikan sebelumnya, di dalam ruang uji ternyata masih disuruh milih kertas lagi yang isinya situasi dimana kita bermain peran bergantian dengan salah satu juri. Nah di b2 ini tidak, jadi cuma satu topik saja yang dibahas. Sesi tanya jawabpun saya rasa lebih singkat daripada pas B1. Saya selesai kurang lebih setengah 4an sore. Pulang sore ternyata muacettt..hasilnya semoga lulus, Amin

Saturday, 25 April 2015

Blog Update 2015

Saya pasang status hari ini di twitter bahwa saya pengen banget nulis lagi di blog. Sebenarnya apa sih yang menghambat orang untuk nulis lagi? Apakah ga ada ide, malas? Yah bnyak sih alasan klo mau dicari. Ga heran ini blog lama banget ga update.
Rencana mau cerita tentang ujian Delf kemarin, yang dapat nilai mepettt bgttt, paling minim, but I made it after all. Atau tentang pergi sama teman-teman yang baru kenal ke magelang, karena dari beberapa orang di grup itu, hanya satu orang yang saya kenal seblumnya. Naik gunung yang tingginya walaupun ga sampai 2000mdpl, tapi cukup membuat saya ngos-ngosan dan sempat ngerasa ga sanggup tapi sampai puncak juga , tetep bikin ketagihan pdahl masih kebayang susah payahnya ke puncak, wkkkkk. Atau ketika terheran-heran bahwa yang namanya pos-pos di pendakian yang namanya ada pos 1, pos 2 dan seterusnya itu ternyata cuma plang atau papan kecil dengan tulisan pos. Bahkan ada juga yang ga ada papannya sama sekali. Yah karena it was my first time, so i thought what we call as a “pos” was a little hut or a small building where the the climbers can take a rest in that kind of place...wkkkkk.
Atau, ini, tentang beberapa buku yang sudah dibeli tetapi bacanya ga selesai-selesai. Ya iyalah orang diselain baca buku yang lain. Belum selesai baca yang ini, udah mulai bosan, eh, beli buku trus baca yang baru.
Atau tentang tes simulasi ibt toefl di semarang yang tak kira we were going to use the internet but we were not, because the institution said it wasn’t allowed to use the real ones, wkkk and it was only me in the class.
Atau mau nulis film yang udah ditonton. Kemarin dapat kopi film, judulnya The Secret Life of Walter Mitty. It’s such a inspirational movie. Saya suka scene dimana Mitty naik sepeda di sebuah tempat di Skandinavia menyusuri jalan menuju Gunung Efjaaa....ah susah mengejanya. Pokoknya gunung yang tahun 2010 kemarin meletus dan namanya cukup panjang. Pengen ke Iceland kan jadinya ?_? hdww. Tentu saja tidak ketinggalan scene di Himalaya juga ketika mencari si fotografer.
Tentang saya beberapa minggu kemarin lembur, pergi pagi pulang petang, wkkkk, karena harus menggantikan teman yang sedang berhalangan hadir. Ah sempat terlintas di pikiran gini amat nyari duit, wkkkk...it’s like I was a career woman or something....but actually I am not?
Atau ketika saya nyeletuk ke teman, dan bilang kalau seiring tambah tuanya kita, terkadang kita kehilangan sesuatu yang dulunya membuat kita antusias dan mengejar mimpi, jadi tersisih, karena kita harus sudah memikirkan prioritas, yang saya pikir prioritas saya sendiri pun masih bingung apa.  Si teman hanya menjawab, ya dia tidak begitu mengerti, karena dia masih muda, then I was thinking, "ok it's like you were trying to remind me that I'm much older than you". Wkkk.
Menyelesaikan baca Alchemistnya Paulo Coelho lagi, dan malah buat bertanya ke diri sendiri, sebenarnya “legenda pribadi” saya itu apa, dan apakah saya sudah berada di jalan untuk mewujudkan “legenda pribadi” saya? Wkkk atau saya harus berpura-pura mulai saat ini menentukan apa yang akan menjadi legenda pribadi saya walaupun saya sendiri kurang yakin? Dan berharap saya kali ini benar tentang yang saya akan lakukan? Keleuss, nunggu ketemu si Raja dulu? Ini kenapa jadi ribet? Woii!

Yah dan memikirkan itu semua sudah menjadi tulisan dan bisa diposting di blog kan?wkkk

Wednesday, 11 June 2014

Sebuah Cerita Lama

Lagi buka-buka file lama, trus nemu tulisan ini. Seingat saya, ini latihan saya waktu mau ikut DELF B1 tahun 2012, hehehhe. Lalu saya edit sedikit tadi dan saya putuskan untuk memajangnya di blog karena pas bacanya jadi keinget masa-masa dulu...kali teman yang saya ceritakan di sini baca*apa seehh... Bon, voilà!

Quand j’étais au collège j’ai rencontré une fille. Elle était mon amie de ma pension. Oui, nous avons habité dans la meme pension. Et, c’était là ou l’on se rencontrait pour la premier fois. D’abord, on ne se parlait pas beaucoup. Mais, de temps en temps, notre amitié devient tout proche. On a fait quelquechose ensemble, par exemple, on aime beaucoup se promener. Alors, un jour on a decidé de le faire, mais cette fois, on a pris le plus long marché. On a appris avant, qu’il y a un zoo peu près 7 km de notre pension. Et, un jour, je voudrais vraiment y aller. J’en ai parlé souvent dans la pension ce que je voulais faire, mais quelqu’un ne m’a pas repondu, parce qu’elles pensaient que c’était trop loin pour marcher, et c’etait ridicule de le faire, Ça serait nul d’après elles . Bon, un jour, cette fille m’a parlé que’elle voulait faire une aventure aussi. Comme je lui disait, ce plan, elle m’a repondu qu’elle était daccord avec moi. Et, voilà, nous sommes vraiment allées au zoo en marchant. C’était vraiment devenir une nouvelle aventure pour moi, car on n’est pas passé la rue originale, mais c’était un foret qu’on a jamais connu avant. Cétait très agréable mais aussi nous fait peur. Cétait une mémoire incroyable à nous.
J’ai de la chance d’avoir une amie comme elle. Après avoir fini nos études, on reste de se connecter. On se partage notre vie, ce qui nous arrive, ce qui nous pense sur quelquechose, et l’année derniere je lui ai rendu visite chez elle, et j’étais très contente de la voir. Nous avons visité une site touristique dans sa region. Elle me manques beaucoup. Et je souhaite, que notre amitié restera pour toujours. AminJ
Dan, saya berhasil lulus tahun itu. Untuk tahun ini, sudah mendaftar untuk B2. Sudah mencoba beberapa latihan on line, kemudian nonton acara-acaranya TV5, dan masih sering menemukan kata-kata yang entah apa artinya, hahaha. Meskipun begitu, semoga saya lulus juga dengan nilai yang memuaskan. Amin
Cemugudhhhhh Da! 

Tuesday, 5 November 2013

Si Aku

Aku bertopeng. Ulung. Orang-orang di sekitarku tertipu. Tetapi mereka tidak merasa ditipu. Mungkin karena aku tak membuka topeng ini atau belum ada yang membuka topengku, atau lagi topeng ini belum terbuka sendiri. Seperti menunggu bom waktu yang sedang berjalan. Aku tak bermaksud menipu mereka. Aku hanya berusaha bertindak seperti adanya. Terkadang terjebak sendiri. Ada yang mungkin sudah tahu, dan orang tahu itu masih memilih diam dan membiarkan yang tidak tahu tertipu terus menerus. Dan aku, harus selalu merasa cemas jika suatu saat nanti topeng yang kukenakan ini hilang. Aku capek sendiri. Terkadang aku sendiri bingung, aku ini yang memakai topeng atau aku yang tanpa topeng itu benar-benar aku? 
Aku ingin memberitahumu tentang aku di balik topeng ini. Tapi, apa aku sanggup?

Sunday, 27 October 2013

Wawancara Imajiner

T:  “Hobi kamu apa?”
J:  “Membaca”
T: “Oh, yah, kamu suka membaca apa?”
J: “Baca TL”.
Saya membayangkan, jika suatu saat dialog di atas terjadi ketika saya berada dalam sesi wawancara kerja sebuah perusahaan. Kira-kira apa yang dipikirkan si penanya jika jawaban saya seperti itu. Atau sebaliknya jika saya punya kesempatan mewancarai seseorang, kira-kira ada tidak ya yang akan menjawab seperti itu.Yah, ini wawancaraimajiner saya. Demikian.

PS:  *Yes, akhirnya aku update blog ini! Semangat nulis! \^.^/


Selamat Hari Blogger Nasional ..*baru saja baca TLnya @bentangpustaka

Saturday, 9 February 2013

ngggggggggg, kuping!

Bagaimana rasanya jika kuping kamu ada suara yang ga kamu inginkan? Berdenging, tanpa tahu kapan berhenti? Yah, sepele, kecil, tapi cukup mengganggu bukan? Saya sudah merasakannya, tepatnya sudah seminggu lebih. Awalnya, gejala ini muncul beberapa bulan yang lalu. Waktu itu saya pikir cuma karena posisi tidur saya yang salah, sehingga ketika bangun saya kuping saya berdengung. Mungkin karena posisi kuping yang tertindih terlalu lama, sehingga mampat, dan menutup lubang telinga, dan timbul bunyi mendenging ini. Hahaha, kesimpulan yang sangat bisa diragukan memang. Waktu itu setelah beberapa hari suara mendenging itu hilang dengan sendirinya. Tentu saja lega karena saya tidak perlu pergi memeriksakan diri. Yah, saya sering malas untuk pergi ke puskemas misalnya, padahal jaraknya dekat dengan rumah.

Kemudian, beberapa hari yang lalu, suara itu hadir lagi. Sayapun berpikir paling-paling nanti akan sembuh
sendiri. Sayapun menunda-nunda hanya sekadar untuk periksa. Malas. Tapi seorang teman saya mengingatkan, untuk urusan kesehatan ga boleh malas. Ah, kenapa musti diingatkan teman kamu, suara lain melintas. Akhirnya tiga hari lalu, saya pergi ke puskemas. Sampai di tempat, dokter mengajukan beberapa pertanyaan kepada saya sebelum memeriksa. Apa saya senang mengkonsumsi obat sembarangan yang beredar bebas? Seingat saya tidak, tapi saya menambahkan, saya pernah membeli obat sakit gigi di luar. Apa saya demam atau flu, lalu saya jawab tidak. Dia juga mmencari tahu apakah saya bekerja di tempat bising, pabrik misalnya. Setelah itu, dia memeriksa telinga saya dengan menyinarinya. Dan, voila, “oh, jadi serumennya keras ini,  menghalangi saluran, makanya berdengung” sayapun bertanya-tanya, kenapa bisa keras yo? Ah, pertanyaan tidak sempat saya ajukan. Kemudian saya menerima resep, dan di kertas itu tertulis : cairan Glycerol dan beberapa paracetamol. Ini juga, paracetamol? Siapa yang demam? Saya yang awam ini hanya bisa bertanya-tanya lagi, hahaa.. tiga hari lagi saya harus cek lagi.

Hari itu sudah tiga hari setelah saya periksa. Saya pergi lagi ke puskemas. Daftar di loket, seperti biasa membayar Rp 5100. Menunggu arsip saya, yang ternyata tidak ditemukan, mungkin tertinggal di tempat periksa. Saya hanya diberi secarik kertas kecil berisi keterangan nama, umur, dan alamat. Saya segera menuju ke tempat pemeriksaan. Sesampainya di tempat periksa, saya tidak bertemu dengan dokter yang kemarin menangani saya. Hanya ada beberapa orang, dan seorang petugas, entah dia dokter or mantri, mulai memeriksa saya. Dia lalu menyinari telinga saya, dan komentarnya adalah “wah, radang ini” sambil mencongkel serumen keras di telinga saya. Di benak saya saat itu, “Ha, radang?”. Agak sakit. Tapi, telinga saya tidak berhenti mendenging, dan dia bilang untuk setelahnya bisa terus diteteskan obat dan dibersihkan dengan cotton bud. Boleh ya?!emang…kemudian seorang petugas yang lain memberikan resep lagi. Saya lupa nama obat apa, yang saya ingat ada tambahan vitamin c, ya vitamin c, entah ini untuk apa di resep saya. Sampai di loket, saya mengambil obat. Agak heran melihat salah satu bungkusan tablet. Jadi, salah satu tablet itu berwarna buram, maksud saya agak kekuning-kuningan, sempat ragu, dan bertanya kira-kira obat yang mana, apakah vitamin c atau obat yang satunya, dan kenapa musti warnanya bulukan gini si. Saya pulang, dan hanya meminum tablet yang berwarna putih cerah. Berharap beberapa hari lagi suara mendengung ini hilang dan telinga saya sembuh. Horeee..

Tetapi, eh tetapi ternyata saya merasa tidak sabar karena harus bolak balik ke puskemas untuk membersihkan telinga saya. yah, di puskemas memang belom ada alat canggih buat membersihkan serume keras, jadi harus pake cara manual, dan itu lama sodara. Akhirnya saya memutuskan pergi ke poliklinik di Rumah Sakit daerah. Dapat nomor antrean kemudian menuju tempat periksa khusus THT. sampai di ruangan, dokternya langsung ngasih resep obat tetes (lagi) yang harus saya tebus ke apotek. Dokter juga berpesan kepada saya setelah ditetesi obat saya disuruh pergi ke tempat praktiknay di sebuah apotek. Harga obat tetes itu jauh berkali-kali lipat dibanding yang di puskesmas, sekitar 80 ribu klo ga salah. Lalu saya pergi ke tempat praktik dokter THT. Antre sebentar, kemudian giliran saya. di tempat tersebut ternyata ada alat atau mesin untuk mengambil serumen keras di kuping. dan cuma sebentar, serumen berhasil dibersihkan. yah, secepat itu, bayangkan jika harus bolak balik ke puskesmas. tapi ya itu, biayanya berlipat-lipat, hhdeww. "see, sehat itu mahal kan? coba duit sebanyak itu, buat yang laen?" -ah, suara laen muncul-. sekarang suara mendenging itu berkurang drastis, hampir hilang, tetapi kenapa klo suasana hening seperti masih ada suara nggggg di kuping ? ah...

Friday, 23 November 2012




"Tinggalkan pikiran rumit agar dapat melihat jawab yang tersembunyi. Diamlah dari kata-kata, agar memperoleh percakapan abadi"
 Rumi

*slapped

pepatah


Seringkali dalam hidup kita dihadapkan pada peristiwa yang menjengkelkan. Bisa terjadi karena gesekan antar individu yang tentu saja berbeda isi kepala. Tersinggung karena perkataan orang lain, merasa dihakimi dan terus berpikir apa yang kita lakukan adalah suatu kesalahan dimatanya. Saya sering sekali seperti itu. Bertemu dengan seseorang, satu saudara saya, dimana ketika saya melakukan atau mengemukakan pendapat, saya amati dia ini selalu berkomentar sama. Sama kalimat dan maknanya. Tentu saja, karena ini untuk kesekian kalinya dia berkata seperti itu. Saya sempat berpikir, kenapa orang ini lagi-lagi komentarnya sama. Saya yang terlalu sensitif atau apa, entah. Tampaknya komentarnya membuat saya berpikir apa yang saya lakukan adalah sebuah kesalahan –kesalahan yang sama sehingga dia melontarkan sebuah komentar yang terdengar sinis, tentu saja di pikiran saya saja saat itu. Oleh karena saya tidak suka disebut seperti apa yang dia kemukakan, ya, saya berusaha menyangkalnya dalam hati. Merasa apa yang saya lakukan adalah hak saya toh tidak merugikan siapa-siapa bahkan dia, tetapi kenapa selalu saja berkomentar sama ?
Saya mengalami peristiwa yang cukup membuat saya merasa kecewa. Yah, ketika orang yang saya pikir akan terus mempunyai perasaan yang sama tetapi kemudian dia berani mengungkapkan bahwa ia ternyata selama ini tidak mempunyai rasa yang seperti saya rasakan, dan selama ini ia ternyata hanya merasa simpati. Sakit untuk mengetahui kebenaran itu, karena saya punya harapan-harapan dan imajinasi masa depan, tapi kini semua selesai begitu tiba-tiba. Seperti hati dilempar, tetapi tak ada yang menangkapnya, lalu hati terjatuh, tanpa ada yang mempedulikan. Terhempas begitu saja di atas bumi, -galau-. Kemudian, hati saya berbicara, bukankah ini yang saya inginkan selama ini, kepastian, yah kepastian. Saya kecewa, karena bukan kepastian ini yang saya ingin dengar dari dia, tapi yang terjadi adalah sebaliknya. Menjawabnya dengan berkata bahwa mungkin ini sudah jalanNya, tetapi kemudian meratap di kamar sendiri, menjadi-jadi, lemah, tetapi sok kuat. Mencari-cari apa yang salah selama ini? Kemudian, timbul pertanyaan dalam hati, kenapa ini terjadi? Kenapa begitu naifnya aku? Dan kenapa-kenapa yang lainnya menyerbu. Setidaknya pertanyaan yang sempat terlintas terjawab sebagian. Saya tidak tahu, dan tentu saja hanya berharap ini yang terbaik dan suatu hari ada jawabnya. Amin
Paginya ketika saya keluar rumah, bertemu orang-orang, mengamati sesekali dan berpikir, kira-kira apa yang sudah dialami orang-orang itu dalam hidupnya. Apakah masalah hidup mereka lebih berat atau lebih ringan dari saya. Bahkan peristiwa yang mungkin tak dapat saya bayangkan sendiri. Saya jadi ingat sebuah kutipan di serial “Lie to Me”, “kenapa orang-orang selalu berpikir bahwa mereka saja yang punya masalah?” ah, jangan-jangan saya juga berpikir seperti itu? Berpikir, why these people seem happier than me? Why it was just a sympathy not even love? Why should I trapped in this kind similar situation? Oh, mon Dieu, je souhaite de trouver tous les réponds un jour.
Saya jadi teringat saudara saya yang saya ceritakan di awal. Saya mencoba mengingat ke belakang apa yang dialaminya dalam kehidupannya. Dan saya baru sadar bahwa komentar komentar yang saya anggap sinis kepada saya itu, mungkin karena sesuatu yang pernah dia alami dalam hidup yang membuatnya seperti itu. Saya tersadar, ternyata saya juga sudah duluan menghakimi dia atas apa yang dia lakukan kepada saya. Dan, sayapun memandang sinis dan benci kepadanya karena saya tidak benar-benar mencari tahu mengapa. Jangan-jangan, apa yang dia katakan ada benarnya, tetapi karena saya sudah tidak suka, saya menjadi menentangnya? Apakah jika komentar-komentar itu ada benarnya, saya akan terus menentangnya?
Makanya saya menasehati diri sendiri, jika kamu belum benar-benar tahu apa yang sudah dia alami dalam hidupnya, apa hak kamu menilainya? Kamu bukan dia, dan dia bukan kamu. Setiap orang pasti mempunyai masalah, lebih ringan atau berat, mungkin itu tergantung kita. Ada orang yang terkadang dengan senang mengumbar masalah entah untuk mendapat simpati, atau siapa tahu mungkin dengan cara seperti itu bisa meringankan beban mereka. Dan tentu saja ada yang pintar menyembunyikan masalah-masalah yang mereka hadapi, sampai ada iri ketika melihat hidup mereka dan berpikir hidupnya lebih menyenangkan daripada kita. Ya, memang seperti itu. Ah, siapa yang tahu? saya juga lagi belajar ….. semoga tidak lupa eh…
Seperti pepatah lama yang mengatakan bahwa kita tidak boleh menghakimi seseorang tanpa pernah merasakan berjalan dalam sepatu yang mereka kenakan.

Wednesday, 22 August 2012

solilokui


Apa yang membuat kamu sebal kepada orang lain? Pendapat mereka tentang kamu? Pendapat yang bagaimana? Apakah jika orang lain berbicara bagus tentang kamu kemudian kamu merasa tersanjung, apa itu akan berpengaruh kepadamu? Oh ya? Seberapa besar? Lalu bagaimana jika ada orang yang merendahkan kemampuan kamu, bukan, bukan merendahkan terlebih hanya “berpendapat “ bahwa apa yang menimpamu, apa yang terjadi padamu adalah sebuah  kesialan sehingga tidak patut ditiru? Apa itu itu akan juga berpengaruh padamu? Yang mana yang paling besar bisa merubah dirimu? Ah, kenapa kamu sering menggantungkan pola pikirmu atas apa yang orang lain katakan tentang kamu? Tak punya kah kamu rasa percaya diri? Aku percaya kamu punya. Bahkan kadang kamu dengan semangat menunjukkannya padaku. aku telah melihat dirimu yang penuh semangat, seolah tak ada kata menyerah. Lalu kenapa sekarang kamu pudarkan semangat itu? Aku tahu kamu bisa.  Aku percaya, lalu kenapa kamu sendiri mengikis kepercayaan itu?
Kau tahu, orang akan selalu melihat apa yang nampak, dan mungkin akan terus menemukan orang yang selalu saja menemukan kekurangan kamu, bahkan, menganggap kamu orang yang gagal. Tapi, bukankah sudah aku katakan, aku akan tetap percaya padamu, bahwa kamu sudah berusaha. Kamu tak perlu membuktikan apapun, jalani saja hidupmu, dan sekali lagi percayalah, kamu tak perlu pengakuan atas apa yang kamu lakukan untukmu sendiri. Tersenyumlah, jika kamu mengahdapi orang-orang itu, itulah hidup, selalu saja ada orang-orang seperti itu. Jangan, jangan membenci orang itu, mereka hanya tidak tahu, bahkan, dibalik perkataan mereka, sebenarnya mereka sedang mengigatkanmu, tentu saja, dengan cara mereka. Percayalah kamu akan lebih kuat.
Tersinggung? Boleh, tapi jangan lama-lama, sadarilah, bahwa ada sedikit kebenaran di dalam perkataan mereka. Tersenyumlah. Tersenyum, karena apa yang dikatakan mereka ada kebenaran, lalu kamu berusaha menyangkalnya, tersenyumlah, bahwa kamu menjadi lebih tahu, siapa yang memberi semangat, siapa yang membuat terpuruk. Tersenyumlah, karena kamu menjadi lebih kuat.  Tersenyumlah untuk dirimu sendiri, karena apa dirimu saat ini, adalah hasil dari usaha kamu sendiri dulu. Jadi sebelum menyalahkan orang lain, lihatlah, ke dalam dirimu, tanyakan , sudah seberapa jauh kamu berusaha? Apa kamu sudah melakukan yang terbaik selama ini? Jika belum, aku harap kamu memperbaiki dirimu, jika kamu sudah berusaha, ikhlaskan semua hasilnya kepada Tuhan.  Ya, aku berdoa untukmu, agar kamu tidak runtuh oleh tantangann apapun.  Tapi, apalah arti doaku, jika kamu sendiri tak memperbaiki diri? Seperti yang sering kamu katakan, 
Tetaplah Semangat!

Juillet, deuxmilledouze

pic.source: kulsoom.wordpress.com

Sunday, 3 June 2012

Aku (akan) Melanjutkan Membaca buku


Suatu malam yang tenang dengan  cuaca cerah di luar aku teringat ada buku yang sudah lama aku beli tapi tidak kunjung selesai dibaca. kukatakan pada hatiku, "ya, aku ingin membaca". Sepertinya malam ini cocok untuk melanjutkan membaca. Kemudian beranjak untuk mengambil buku. Belum sempat sampai di rak buku, tiba-tiba merasa ada yang kurang. Oh iya, belum makan. Kemudian, berpikir « mending makan dulu kali yak, biar nanti baca bukunya enak » sejurus kemudian mengambil piring, lalu makan. Beberapa menit setelahnya, « akhirnya kenyang juga » siap lanjutin pegang buku. Baru beranjak, eh lupa minum, kemudian minum dulu.
Nhah sudah siap melanjutkan membaca buku. Baru memilih posisi yang nyaman di kasur atau di kursi?, kemudian memutuskan untuk di kasur saja. Hmm, tapi hawanya dingin, baiklah ambil selimut, beranjak lagi. Kemudian teringat lagi, bahwa biasanya nanti ketemu kata-kata sulit atau ada kutipan yang menarik. Jadi perlu kertas dan bolpoin untuk mencatat. Yupz, berdiri ambil buku dan bolpoin. « nhah, sekarang sudah lengkap » huumm, tapi kemudian berpikir, keknya lebih enak kalau sambil dengerin musik nih. Ya, baca buku sambil dengerin musik. Segera mencari radio dan menyalakan dan kemudian mencari frekuensi yang cocok. Setelah ketemu, balik lagi pegang buku yang mau dibaca.
Sebaris, dua baris……….dan kemudian…
Baru beberapa baris, « lagunya ga asik nih » kemudian, beranjak sebentar dan memutar -mutar kenop, dan kemudian berpikir, untuk mencari siaran radio yang kira-kira tidak membosankan saja untuk didengarkan. « nhah sudah ketemu ».
Melanjutkan membaca buku,
Satu kalimat, dua kalimat…………..dan kemudian…
« Oahhmmm », ko ngantuk ya, dan berpikir lebih baik tidur aja dulu daripada dipaksakan.
Ya, lumayan, nambah beberapa kalimat...-_-
Dan cerita membaca buku menjadi bersambung lagi entah kapan….
Hening…

Saturday, 12 May 2012


This poem taken from Kompas daily newspaper, Sunday, 22 April 2012
Just wanna rewrite it here somehow,

Semacam Surat Cinta
 by Toni Lesmana

(1)
Ini semacam surat cinta
Lebih mirip kayuh di dingin air
Perahunya kau, pulau yang dituju juga kau

Kau yang kosong aku mengisinya
Kau yang penuh aku mereguknya

Siapa kau, siapa aku

(2)
Aku menyimpan jawaban
Kau pun begitu
Itu lebih baik sebab jawaban
Tak pernah sama

Kita berbeda dan sepakat
Itu tak bisa dibantah
Namun aku sering menjadi kau
Dan kau diam-diam adalah aku

Mana kau, mana aku

(3)
Aku pernah punya nama
Kau apalagi. Pada hujan
Nama-nama itu dihanyutkan
Seusai pertemuan

Segala yang tanggal lenyap
Segala yang tinggal lindap

Kau kuburku, aku kuburnmu
2012

Monday, 23 April 2012

Ke Gedong Songo


Keinginan dalam hati sudah beberapa kali terlintas, ajakan sudah beberapa kali pula diucapkan. Setelah beberapa waktu, akhirnya saya mengunjungi tempat ini, Candi Gedong Songo.
Bersama saudara-saudara sebangsa dan setanah air, seminggu yang lalu saya meluncur ke Bandungan, kecamatan dimana kompleks candi ini berada. Berangkat sudah agak siang, dan sampai di kompleks wisata tersebut sekitar pukul tiga sore.

Gedong Songo ini terletak di lereng Gunung Ungaran, termasuk wilayah Desa Candi, kecamatan Bandungan, Semarang. Kurang lebih setengah jam  perjalanan dari kota Ambarawa. Dari arah Magelang, sampai sebelum pasar Ambarawa belok ke arah kiri, menuju kawasan Bandungan.
Seperti kemaren, mungkin karena hari libur, di jalan sempat terhadang macet, untunglah tak parah. Hanya sebentar, terutama pada waktu melewati kawasan dekat pasar Bandungan. Banyak mobil yang parkir di bahu jalan, sehingga, mengurangi jalur lebar jalan, tentunya. Belum lagi kalau ada kendaraan yang mau belok arah. Kebanyakan mobil-mobil ini berhenti di sepanjang penjual kembang. Nhah, sempat bertanya juga, kenapa ga dikasi lahan parkir? Dan ternyata, info dari kerabat yang tinggal dekat situ, sebenarnya sudah ada tempat parkir, tempatnya dekat dengan kecamatan. Namun, biasanya kendaraan yang parkir di situ hanya bus-bus yang mengangkut rombongan wisatawan. La kalau mobil pribadi ya, seringnya memang parkir di bahu jalan.
Perjalanan berlanjut, untuk menuju ke candi, dari  arah Pasar tadi lurus, kemudian sampai di persimpangan.  Kiri ke arah Temanggung, nhah ke kanan, ke arah kompleks candi.  Itu bisa dilihat dari gapura besar yang saya lewati, yang menerangkan jalan ke kompleks candi.
Sampai di kompleks wisata candi, parkir motor, kemudian langsung menuju ke loket. Di situ tertulis, untuk turis lokal, Rp 6000 (hari biasa), Rp.7500 (hari libur).
Memasuki kompleks candi, kami langsung menuju ke candi I. Letaknya tidak jauh dari loket masuk tadi. Di sini hanya ada satu candi saja. Di dalamnya  masih terdapat yoni, dan masih ada sisa bau dupa yang dibakar di dalamnya. Kemudian lanjut ke candi berikutnya. Untuk menuju kompleks Candi II, III, dan IV, tinggal mengikuti papan petunjuk. Jalan agak menanjak. Dan di sepanjang jalan menanjak ini, bisa kita temui warung-warung makan, yang berjejer. Menunya  yang saya ingat, sate kelinc, yah, karena seingat saya menu ini akrab sekali dengan tempat wisata, jadi inget di Kopeng sama di Cemoro Sewu.
Jalur ini agak jauh, jika dibandingkan sama jalur kuda. Sebenarnya kalau mau deket si, bisa lewat jalur kuda, tapi resiko tanggung sendiri. Jalur pengunjung memang agak menanjak dan memutar jadi lebih jauh, tetapi cukup mengasyikkan juga c, itung-itung hiking lah. Hehhe..
Sampai di candi II

Candi Gedong II, diambil dari kompleks Candi III, hmm keliatan kan y ..

Candi Gedong II, lebih dekat
Candi III, berada di atas bukit, jadi musti jalan menanjak lagi, dan sampai di candi III.
Candi III

Sebelum ke kompleks Candi IV dan V, kita dapat mengunjungi sumber mata air panas, dengan bau khas belerangnya yang sangat menyengat. Kitapun bisa turun dan melihat sumber belerang dan air panas lebih dekat.

jalur turun ke sumber air panas

asap belerang
mata air panas
kalau mo berendam ada kolam air panas juga ni
5000 rupiah

daftar khasiat no.5 : mengurangi stress lhoo, whoaa


Nah, dari sumber air panas, jalur naik lagi, menuju ke komlpeks Candi IV. Dekat candi ini, beberapa meter, sebelah kanan,ada candi, yang ukurannya lebih kecil dari candi IV, tapi ga tahu, kenapa candi ini nyempil, apakah ini termasuk candi IV ?entahlah. Sempat istirahat sebentar, duduk beralas rumput, dengan cuaca sore itu yang dingin, sejuk. Walaupun gerah, karena tadi sudah jalan beberapa tanjakan, tetapi semua itu dikalahkan dengan hawa sejuk dan pemandangan indah khas pegunungan. Sesekali gunung Telomoyo dan Merbabu menampakkan puncaknya. Beberapa kali juga, terlihat puncak Ungaran yang tertutup kabut, cukup terlihat jelas dari sini.
Tak terasa, sudah pukul 5 sore. Kami melanjutkan petualangan, ke Candi V. Sebelum ke area Candi V, kami melewati tanah lapang yang cukup luas, biasanya di tempat tersebut digunakan untuk kemah. Dan ternyata candi V adalah candi terakhir yang kita lewati, ya hanya sampai candi V. 
hmm, foto papan nama apa candinya si??

Lalu, di mana candi VI, VII, VIII, dan IX? Bukankah Songo itu maksudnya Sembilan? Nhah itu juga saya bertanya, tapi infonya ga dapet kenapa, hehe..
Segerin mata dulu ni..
jalur setapak dari kejauhan

kubis

puncak Gunung Ungaran

terrasiring kebun sayur


jalan setapak

Jadi, berkunjung ke Gedong Songo ini, it was really fun, sodara.. Seperti yang sudah saya sebutkan tadi, hawa sejuk, pemandangan hijau, suasana yang cukup tenang, bakal mengalahkan rasa lelah, dan peluh karena harus menaiki dan menuruni bukit untuk mencapai candi-candi tadi. Kali lain, mungkin lebih enak, datang lebih awal, pagi gitu, kan bisa menikmati tempat ini lebih leluasa dan lama.



Sunday, 8 January 2012

cerita monitor lagi...

sudah tahun 2012 ini. bulan januari, sperti biasa, malam ini pun hujan, seperti sudah biasanya terjadi di negeri ini. jadi apa yang sudah dicapai di tahun kemaren. saya coba untuk mencari dan ternyata saya pernah menuliskan beberapa keinginan saya dulu. walaupun saya lupa kapan menulisnya. ada tiga hal, dan hhehe, baru satu yang terleasisasikaa....hmmm maksudnya terrealisasikan. yey, menjadi salah satu dari monitor tv. kali ini bukan JIBTV, tapi saudaranya, NHKWOrld TV. pada tahun 2010, sebenarnya dulu pada awalnya, saya mencoba kirim aplikasi ke NHK juga, tapi dulu mungkin belum rejeki saya, jadi belum diterima. akhirnya mencoba di JIBTV dan aplikasi saya diterima. dan ceritanya di sini. nah, tahun 2011, coba lagi, di NHK, dan akhirnya diterima. seneng.
buat pengangguran kek saya kompensasi yang diberikan dengan laporan yang saya harus kirim jumlahnya sangat lumayan. itung-itung saya bisa belajar membuat artikel dalam bahasa inggris. walaupun dengan grammar yang mungkin amburadul, hhhh. namun tetap saja, saya merasa beruntung mempunyai kesempatan ini.
jikalau dipikir-pikir, menjadi monitor itu awalnya sebuah hal yang sederhana saja. tapi, berhubung saya kadang hmmm, maaf, mungkin lebih tepat kerap sekali, malas untuk membuat susunan komentar saya setelah acara selesai. ternyata menyusun kata per kata untuk membuat laporan komentar sebuah acara pun , butuh paksaan. dan seperti sudah kebiasaan, saya akan mengirimkan laporan pada harihari terakhir, bahkan sangat terakhir. yah, alasan klasik, pikiran maunya sepeeeeeeeerti itu. maksudnya maksa otak buat komentar aja, baru nyadar kalo udah hampir akhir. barulah nulis dan ngirim email. sebenarnya ga bagus tapi entahlah. ide ituww, muncul disaat genting, -lebay padahal cuma kasih komentar-, yah tapi yang terjadi, kerap sekali seperti itu. bahkan target untuk kirim misalnya 4 email koment belum tercapai tiga bulan terakhir ini. mustinya bisa, -kan'cuma' ngasih komen- ya kan??! Selfnotice.

lalu tahun ini mo ngapain heyolo.....
maunya bertemu dengan kesempatan-kesempatan yang lain dan yang paling penting adalah tidak menyia-nyiakan dan mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.
"huummh, jadi apaaa? kesempatan kek gimana? kurang spesifik nuh". "iyahh, ada pokknya". "apa se"

jadi ...ditulis di sini ga yaa....tulis ga yayyy.......
humm, salah satunya mungkin, jadi JIBTV monitor lagi trus dibayar pake euro, biar bisa beli buku yang di amazon.fr. amin. ini juga da ceritanya nih kenapa musti ke amazon.fr
nah spesifik bangtt ga tuh??


*kenapa nulis langsung di 'newpost', tulisannya kok jadi ga teratur gini?, maksudnya font-nya ga bisa otomatis, misal klo di awal kal. hurup besar. biz titik itu hurup besar.*
-__-
it's kinda late nite...bonne-nuit tout le monde :))

Saturday, 3 December 2011

Hummm, sebenarnya humm, saya mau update blog saya ini. Katanya mo bloggeran tapi yah beginilah kenyataanya, ko tambah ke sini, tambah berkurang saja postingan tulisan saya. Lihat saja, tahun 2009, di awal ko bisa ada 18 postingan, kemudian 2010, jadi 9, 2011 jadi 3, 4 ditambah yang ini, jangan-jangan nanti ga jadi ngeblog lagi, karena tak menghasilkan. *apa maksude?*

Jadi, kenapa,? humm, pastinya ya yang tahu saya. Malas. Tak punya ide , ah Cuma alasan saja. Kalu mau, banyak ide dan sesuatu yang di sekitar saya, atau bahkan tentang saya sendiri bisa dituangkan dalam tulisan.

Lalu kenapa ? yah, entahlah, suatu kali saya bisa merasa harus menulis ini atau itu, tapi setelahnya malah saya tak jadi menyelesaikan tulisan dan tentu saja tak jadi juga saya taruh di blog.

Hummm, menulis..., pada awalnya, dulu, saya merasa semangat, seakan-akan ingin menuliskan apapun yang saya alami yang saya anggap layak diceritakan (haiss). Tapi seperti sudah saya tulis tadi, makin ke sini, saya pun tak bisa melawan (emang perang ?). Terkadang saya sekarang harus mikir lagi, kalau menulis di blog, soalnya hummh....

Dulu kunjungan ke blog saya tak sebanyak sekarang. Bahkan , humm, yang mengherankan, kalau tidak salah tahun 2009 atau tahun 2010 yah, ko jadi lupa gini, pernah saya lihat blog saya ini banyak mendapat kunjungan. Sempat merasa aneh sendiri, karena apa, pada waktu itu (bahkan sampai sekarang) saya merasa tulisan di blog saya ini bukan menyuguhkan tema-tema yang populer. Maksud saya, terlintas di pikiran saya, bahwa sekarang musti hati-hati kalau mau nulis, nanti banyak yang lihat, sudah siapkah dengan komentar-komentar ?! yah, namanya juga blog terbuka, siapa saja bisa lihat , siapa saja bis akomentar , *dari kemaren juga gituww kalee*.

Yah, begitulah, sampai sekarang, saya mikir-mikir, kelamaan mikir, jadinya ga pernah update blog lagi.

Menjadi lebih aktif di blog, semoga…(sengaja kata « semoga » ditaruh di belakang biar kek artikel-artikel ithuwww)

Apo sehh ne

Diposting hari ni, nulisnya kemaren …penting ga penting

Sunday, 23 October 2011

I was upset of nothing that I would understand. My mind felt fly away on a high unknown space. My eyes caught nothing but just many of white shadows. I can not reach a mind of mind. Why I did those, why I did this, somehow I knew not. What just my heart says, sometime I trapped in a little doubt. But not this time, when I was sure about, but the destiny told me the other thing. As if I were so hallow, absurd. A little think, about something, poisoned me. I do not want to go in deep, but my mind has already bought me in to in. I am demanding my self, so what exactly happen in it. Could it be who control it, or it was something else? I am bit dizzy, and the hole my mind was walk in to some absurd state. Let it open its self. The way it works, it just like that maybe. Help me find myself…….find I………find myself………….


Le neuf juillet deuxmilledix


just want to post it.......

Monday, 18 July 2011

Amazon Giftcard from jibtv? yupz

Finally I received the book which I purchased from Amazon.com for about the last two weeks. Since this was the first time I tried to get things from abroad, I was wondering how much was the charge I had to pay for purchasing items from abroad. My brother told me that I would have to pay some taxes if the price of the items is more than $50. That’s the Indonesian customs policy he said. Then, I chose the iparcel, of course this was the cheapest among the other delivery services, that’s why I prefered to use it…... I bought the items in June 4th 2011, and the estimate delivery was June 30, 2011 - July 21, 2011, but finally it arrived at my home in the early of July. So, it took almost one month in its delivery. The package was brought by the postman. I thought I wouldn’t have to pay any, for it wasn’t more than $50, but Mr. Postman asked me Rp. 5000, I don’t know, for administration maybe…or it is again a customs policy, errr, he told me, what for, but I forgot it...heuuee…

After being JIBTV monitor about six months I have got the Amazon gift card for free. And of course I was lucky having this because I can use it to buy some items in Amazon.com for free. But unfortunately, I can not use it to buy items in amazon.fr, bit upset, but that’s ok, maybe next time I’ll get another chance.(-_-'). Yupz, it can only be used in amazon.com, means USA. I thought it can be used in some others of Amazon affiliates, such as amazon.fr, or amazon.jp (wondering why there is no Amazon.id (Indonesia) ? J),

It is quiet easy to become monitor. When the JIBTV is looking monitor you can apply for it. If they have approved your application, then you have got the opportunity to get Amazon gift card. Then, all you have to do is just watchin theJIBTV programs asked, and then submit your comment about the program, in 300 words minimal. Anything about how to become monitor can be found in JIBTV webpage. Thus, better to visit the JIBTV web sometimes, or you can find the information in their daily shows to know if they are looking for monitor.

Now, the three books that I have purchased are in my hand. Still try to finish reading it.

halaaahh :))